Untitled
Sajak Suara

Sesungguhnya suara itu tak bisa diredam.
Mulut bisa dibungkam,
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku.
Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan.
Di sana bersemayam kemerdekaan.
Apabila engkau memaksa diam,
aku siapkan untukmu: pemberontakan!
Sesungguhnya suara itu bukan perampok yang ingin merayah hartamu.
Ia ingin bicara
mengapa kau kokang senjata dan gemetar ketika suara-suara itu menuntut keadilan?
Sesungguhnya suara itu akan menjadi kata.
Ialah yang mengajari aku bertanya dan pada akhirnya tidak bisa tidak engkau harus menjawabnya.
Apabila engkau tetap bertahan,
aku akan memburumu seperti kutukan.

~KH. Mustofa Bisri~

“Kalau kau sibuk berteori 
saja

Kapan kau sempat 
menikmati 
mempraktekkan teori?

Kalau kau sibuk menikmati praktek teori saja

Kapan kau sempat 
memanfaatkannya?
Kalau kau sibuk mencari 
penghidupan saja

Kapan kau sempat 
menikmati hidup?

Kalau kau sibuk menikmati 
hidup saja
Kapan kau hidup? 
Kalau kau sibuk dengan 
kursimu saja

Kapan kau sempat 
memikirkan pantatmu?

Kalau kau sibuk 
memikirkan pantatmu saja 
Kapan kau menyadari 
joroknya? 
Kalau kau sibuk 
membodohi orang saja

Kapan kau sempat 
memanfaatkan 
kepandaianmu?

Kalau kau sibuk memanfaatkan 
kepandaianmu saja

Kapan orang lain 
memanfaatkannya?
Kalau kau sibuk pamer 
kepintaran saja

Kapan kau sempat 
membuktikan 
kepintaranmu?

Kalau kau sibuk membuktikan 
kepintaranmu saja

Kapan kau pintar? 
Kalau kau sibuk mencela 
orang lain saja

Kapan kau sempat 
membuktikan cela-celanya?

Kalau kau sibuk 
membuktikan cela orang saja

Kapan kau menyadari 
celamu sendri? 
Kalau kau sibuk bertikai 
saja

Kapan kau sempat 
merenungi sebab
 pertkaian?

Kalau kau sibuk merenungi sebab pertikaian saja

Kapan kau akan menyadari 
sia-sianya? 
Kalau kau sibuk bermain 
cinta saja

Kapan kau sempat 
merenungi arti cinta?

Kalau kau sibuk merenung 
arti cinta saja
Kapan kau bercinta? 
Kalau kau sibuk berkhutbah 
saja

Kapan kau sempat 
menyadari kebijakan 
khutbah?

Kalau kau sibuk dengan kebijakan khutbah saja

Kapan kau akan 
mengamalkannya? 
Kalau kau sibuk berdzikir 
saja

Kapan kau sempat 
menyadari keagungan
 yang kau dzikiri?

Kalau kau sibuk dengan keagungan yang kau
 dzikiri saja

Kapan kau kan 
mengenalnya? 
Kalau kau sibuk berbicara 
saja

Kapan kau sempat 
memikirkan bicaramu?

Kalau kau sibuk 
memikirkan bicaramu saja 
Kapan kau mengerti arti 
bicara? 
Kalau kau sibuk 
mendendangkan puisi saja

Kapan kau sempat 
berpuisi?

Kalau kau sibuk berpuisi
 saja 
Kapan kau akan memuisi?
Kalau kau sibuk dengan 
kulit saja

Kapan kau sempat 
menyentuh isinya?

Kalau kau sibuk
 menyentuh isinya saja 
Kapan kau sampai intinya?

Kalau kau sibuk dengan 
intinya saja

Kapan kau memakrifati
nya-nya?

Kalau kau sibuk memakrifati nya-nya saja

Kapan kau bersatu 
denganNya? 
Kalau kau sibuk bertanya 
saja

Kapan kau mendengar 
jawaban!” 

*** Puisi berjudul “Kalau Kau 
Sibuk Kapan Kau Sempat” 
ditulis oleh K.H. Mustofa
 Bisri, pada 1987. Seringkali 
dibacakan oleh beliau di
forum – forum Kegiatan Mahasiswa di era tersebut.

Sumber : “OHOI” Kumpulan 
Puisi Balsem K.H.A. Mustofa
 Bisri, Pustaka Firdaus, 1991

“Kalau kau sibuk berteori
saja

Kapan kau sempat
menikmati
mempraktekkan teori?

Kalau kau sibuk menikmati praktek teori saja

Kapan kau sempat
memanfaatkannya?
Kalau kau sibuk mencari
penghidupan saja

Kapan kau sempat
menikmati hidup?

Kalau kau sibuk menikmati
hidup saja
Kapan kau hidup?
Kalau kau sibuk dengan
kursimu saja

Kapan kau sempat
memikirkan pantatmu?

Kalau kau sibuk
memikirkan pantatmu saja
Kapan kau menyadari
joroknya?
Kalau kau sibuk
membodohi orang saja

Kapan kau sempat
memanfaatkan
kepandaianmu?

Kalau kau sibuk memanfaatkan
kepandaianmu saja

Kapan orang lain
memanfaatkannya?
Kalau kau sibuk pamer
kepintaran saja

Kapan kau sempat
membuktikan
kepintaranmu?

Kalau kau sibuk membuktikan
kepintaranmu saja

Kapan kau pintar?
Kalau kau sibuk mencela
orang lain saja

Kapan kau sempat
membuktikan cela-celanya?

Kalau kau sibuk
membuktikan cela orang saja

Kapan kau menyadari
celamu sendri?
Kalau kau sibuk bertikai
saja

Kapan kau sempat
merenungi sebab
pertkaian?

Kalau kau sibuk merenungi sebab pertikaian saja

Kapan kau akan menyadari
sia-sianya?
Kalau kau sibuk bermain
cinta saja

Kapan kau sempat
merenungi arti cinta?

Kalau kau sibuk merenung
arti cinta saja
Kapan kau bercinta?
Kalau kau sibuk berkhutbah
saja

Kapan kau sempat
menyadari kebijakan
khutbah?

Kalau kau sibuk dengan kebijakan khutbah saja

Kapan kau akan
mengamalkannya?
Kalau kau sibuk berdzikir
saja

Kapan kau sempat
menyadari keagungan
yang kau dzikiri?

Kalau kau sibuk dengan keagungan yang kau
dzikiri saja

Kapan kau kan
mengenalnya?
Kalau kau sibuk berbicara
saja

Kapan kau sempat
memikirkan bicaramu?

Kalau kau sibuk
memikirkan bicaramu saja
Kapan kau mengerti arti
bicara?
Kalau kau sibuk
mendendangkan puisi saja

Kapan kau sempat
berpuisi?

Kalau kau sibuk berpuisi
saja
Kapan kau akan memuisi?
Kalau kau sibuk dengan
kulit saja

Kapan kau sempat
menyentuh isinya?

Kalau kau sibuk
menyentuh isinya saja
Kapan kau sampai intinya?

Kalau kau sibuk dengan
intinya saja

Kapan kau memakrifati
nya-nya?

Kalau kau sibuk memakrifati nya-nya saja

Kapan kau bersatu
denganNya?
Kalau kau sibuk bertanya
saja

Kapan kau mendengar
jawaban!”

*** Puisi berjudul “Kalau Kau
Sibuk Kapan Kau Sempat”
ditulis oleh K.H. Mustofa
Bisri, pada 1987. Seringkali
dibacakan oleh beliau di
forum – forum Kegiatan Mahasiswa di era tersebut.

Sumber : “OHOI” Kumpulan
Puisi Balsem K.H.A. Mustofa
Bisri, Pustaka Firdaus, 1991